A Thousand Splendid Suns

2009 Oktober 11
by Regina

a-thousand-splendid-sunsKisah yang memilukan. Itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini, saat membaca kisah kehidupan Mariam dan Laila, dua orang perempuan Afghanistan, yang menggambarkan secara keseluruhan mengenai kehidupan para perempuan Afghanistan.

Mariam terlahir sebagai seorang perempuan Afghan, dan sebagai seorang harami (anak haram) pada tahun 1959. Semasa kecilnya Mariam hidup di sebuah desa, Gul Daman, bersama ibunya di sebuah kolba dan hidup dalam kemiskinan. Kelahirannya sebagai seorang anak di luar nikah merupakan aib tidak hanya bagi ibunya, Nana, tapi juga bagi ayahnya, Jalil, dan keluarganya. Keluguan, rasa penasaran akan dunia di luar Gul Daman, dan keinginan untuk bisa dicintai dan hidup bersama ayahnya, merupakan awal dari kisah menyedihkan Mariam.

Mariam memutuskan untuk pergi dari Gul Daman menuju Herat untuk menemui ayahnya. Diluar dugaannya, Jalil bahkan tidak ingin bertemu dengannya. Mariam pun kembali ke Gul Daman dan mendapati ibunya yang telah meninggal. Sepeninggalan ibunya, ayah Mariam membawanya ke Herat dan menikahkannya dengan seorang pria yang berusia 40 tahun dan berasal dari Kabul, seorang pengusaha dan pemilik toko sepatu bernama Rasheed. Dan saat itu Mariam hanyalah seorang gadis berusia 15 tahun. Kehidupan pernikahannya dengan Rasheed pun tak lebih baik karena Mariam sendiri tidak bisa memberikan keturunan bagi Rasheed. Meskipun pernikahan mereka masih tetap bertahan hingga bertahun-tahun kemudian, namun bagi Rasheed, Mariam tak lebih dari sebuah beban yang harus ditanggungnya.

Berbeda dengan Mariam, Laila dilahirkan di sebuah keluarga yang utuh. Hanya saja, seperti Mariam, Laila juga merupakan seorang perempuan dan karena itulah, bagi ibunya, Laila tak lebih dari seorang anak bungsu. Ibunya tentu saja lebih memuja kedua kakak laki-lakinya yang telah pergi berjihad sejak dia masih kecil. Malang bagi Laila yang harus kehilangan keluarganya karena peperangan yang melanda Afghanistan. Saat itulah Laila bertemu dengan Mariam. Dia diselamatkan oleh Mariam dan Rasheed dari reruntuhan rumahnya yang dibom. Terluka dan telah kehilangan keluarganya, Laila tidak memiliki pilihan lain, demi keselamatan bayi yang dikandungnya, maka Laila menerima lamaran Rasheed untuk menjadikannya istri kedua. Saat itu Laila hanyalah seorang gadis berusia 14 tahun.

Kehidupan Laila hanya sedikit lebih baik dari Mariam karena saat itu dia sedang mengandung, meskipun dia mengambil keputusan yang berbahaya karena anak yang dikandungnya bukanlah anak Rasheed. Ketika bayinya lahir, yang ternyata adalah bayi perempuan yang kemudian dinamakan Aziza, maka kehidupan Laila pun sama menderitanya dengan Mariam. Tak jarang Rasheed menggunakan kekerasan baik kepada Mariam maupun Laila. Dan peperangan yang terus berlanjut di Afghanistan hanya memperburuk keadaan tak hanya bagi Mariam dan Laila, namun juga bagi seluruh kaum perempuan dan anak-anak dan orang-orang tak berdosa lainnya. Akan tetapi, dalam berbagai kesulitan yang mereka alami, di antara luka yang ditorehkan oleh suami, di tengah-tengah peperangan yang berkepanjangan, Mariam dan Laila sama-sama menemukan cinta dan keyakinan bahwa pada akhirnya mereka akan tetap bertahan.

Susah payah saya berusaha menyelesaikan membaca buku ini karena Khaled Hosseini dengan gamblang menggambarkan berbagai kekerasan yang dilakukan Rasheed terhadap Mariam dan Laila. Beberapa kali saya harus menutup buku karena ngeri membayangkan kekerasan yang digambarkan, yang tak pernah terpikirkan bisa dilakukan seseorang terhadap orang lain.

Membaca buku ini juga membuat saya berpikir bahwa hingga saat ini pun, di berbagai tempat di belahan dunia ini, masih banyak terjadi penindasan bagi kaum perempuan. Hak-hak perempuan tidak pernah diakui. Saya sempat terperangah saat membaca sebuah bagian yang berisikan sebuah pesan mengenai peraturan-peraturan yang dibuat oleh Taliban ketika mereka menduduki Afghanistan, yang harus dipatuhi oleh semua orang tanpa terkecuali. Bahkan ada peraturan khusus yang dibuat untuk para perempuan yang tentu saja merenggut hak-hak mereka. Bayangkan saja, mengenakan perias wajah, mengecat kuku, tertawa di tempat umum, dan bahkan berbicara (jika tidak diajak berbicara) pun dilarang. Perempuan dilarang keluar rumah sendirian tanpa ditemani muhrim laki-laki dan dilarang melakukan kontak mata dengan pria.  Namun yang paling menyedihkan adalah bahwa anak-anak perempuan dilarang bersekolah.

I tried putting myself on their shoes (the women’s) and I thought, if I’d ever survive in the war and from an abusive husband, I’d die with all those rules. Sebagai orang yang hidup di zaman modern mungkin sulit untuk memahami tapi pada kenyataannya itulah yang terjadi (saat itu di Afghanistan). Hak-hak perempuan direnggut dan perempuan tak lebih dari sebuah “mesin penghasil keturunan”, yang tugasnya adalah melahirkan bayi laki-laki. Maka saya pun merasa bersyukur bahwa saya hidup di zaman yang sudah jauh lebih baik dan tak ada lagi peperangan. Only sometimes we complain over nothing.

“…One could not count the moons that shimmer on her roofs
And the thousand splendid suns that hide behind her walls…” -  Saib-e-Tabrizi

Satu Tanggapan leave one →
  1. 2009 November 4

    Verry good! Kukira udah berhenti menulis, eh, masih aktif :)

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS