Vacation at Belitung Island
Akhirnya keinginan saya untuk berlibur tercapai sudah. Dan Pulau Belitung lah yang menjadi tujuannya. Sedikit mengenai Pulau Belitung sebelum saya menceritakan liburan saya di sana.
Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini dahulu dimiliki Britania Raya (1812), sebelum akhirnya ditukar kepada Belanda.
Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar.Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Sedangkan penduduk Pulau Belitung terutama adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka. (Source: Wikipedia)
Nah, kembali ke liburan saya. Untungnya saya memiliki beberapa orang teman asli Belitung yang kebetulan sedang pulang kampung. Jadinya saya memutuskan untuk ikut mereka ke Belitung dan pada tanggal 21 September saya pun terbang ke sana. Penerbangan dari Jakarta sampai ke Tanjung Pandan, Belitung, hanya memerlukan waktu selama 50 menit saja. Sesaat sebelum mendarat, saya sempat mengagumi keindahan laut dan lahan-lahan yang menjadi kebun kelapa sawit.
Dari bandara di Tanjung Pandan, saya menuju ke Kota Manggar, yang didatangi Lintang dan Mahar untuk membeli kapur tulis dalam film Laskar Pelangi. Perjalanan dari Tanjung Pandan ke Manggar memerlukan waktu kurang lebih 1,5 jam dengan mobil. Saya menikmati pemandangan selama perjalanan menuju Manggar yang dipenuhi dengan pepohonan hijau dan rumah-rumah penduduk. Setibanya di Manggar saya di antar ke rumah teman saya dan di sanalah saya menginap selama 2 minggu liburan.
Kota Manggar sendiri adalah kota kecil, saking kecilnya sampai-sampai tidak ada angkotnya. Jadi penduduknya selalu bersepeda motor. Karena terletak di pesisir pantai, maka saya pun puas menikmati sea food selama berada di sana. Makanannya juga tak kalah enak. Cuaca di sana cukup panas dan jarang hujan. Air di Kota Manggar sendiri agak keruh. Jadi jangan kaget kalau Anda berkunjung ke sana dan melihat air yang digunakan untuk mandi agak keruh ^^ Satu lagi, nyamuknya minta ampun banyaknya.
Satu yang paling menarik dari Kota Manggar. Warung Kopi. Yup, hampir semua penduduknya membuka usaha warng kopi sampai-sampai kota ini memecahkan rekor MURI sebagai kota dengan warung kopi terbanyak. 1001 warung kopi!
Tapi setiap warung kopi pasti ramai didatangi. Selama di sana, setiap hari saya menikmati teh susu es. Maknyus betul rasanya.
- Lokasi Pariwisata
Selama 2 minggu di Belitung, saya mengunjungi berbagai tempat rekreasi yang menjadi tempat pariwisata di sana. Karena Pulau Belitung dikelilingi oleh laut, maka tak heran jika tempat-tempat pariwisata yang terkenal adalah pantai: Pantai Lalang, Pantai Tanjung Tinggi, Bukit Berahu, Bukit Batu, dan Pantai Burung Mandi.
- Gantung
Salah satu yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi Belitung adalah karena film Laskar Pelangi (hehehe). Gantung, yang menjadi lokasi di mana latar cerita Laskar pelangi, menjadi tempat kunjungan kami yang pertama. Perjalanan dari Manggar ke Gantung memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Di Gantung ini terdapat sebuah pintu air yang lokasinya diberi nama Pice. Seharunsya sih ada gemuruh air tapi karena sedang musim kemarau jadinya tidak ada gemuruh sama sekali.
Yang menjadi daya tarik utama Pice ini sebenarnya adalah gemuruh air yang dihasilkan tapi sayang sekali sedang musik kemarau. Boro-boro gemuruh, wong sumur di rumah teman saya saja sering kering karena kemarau. Hujan pun tak kunjung datang. Tapi pemandangan di sekitarnya juga tak kalah indah.
Setelah berfoto ria di Pice, kami melanjutkan perjalanan mencari lokasi syuting film Laskar Pelangi yaitu SD Muhamadiah. Kami sempat nyasar juga saat mencari lokasi SD muhamadiah ini. Tapi untungnya dengan bantuan orang-orang setempat, kami bisa menemukan lokasinya. Ternyata banyak juga orang yang datang berkunjung ke lokasi ini. Padahal yang menjadi tujuan utama hanyalah sebuah gedung sekolah yang sudah sangat bobrok dan hampir roboh.
Mendatangi lokasi ini mengingatkan saya bahwa inilah cermin keadaan pendidikan di Indonesia, terutama di daerah-daerah pelosok. Jangankan di pelosok, di kota metropolitan seperti Jakarta juga tak kalah buruknya, mengingat masih banyak anak-anak jalanan yang terlantar dan tidak bersekolah.
- Tanjung Tinggi
Lokasi pariwisata yang terkenal di Tanjung Tinggi ini adalah pantainya yang indah dan berpasir putih. Tentu saja di pantai inilah yang juga menjadi salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Perjalanan ke Tanjung Tinggi ini memerlukan waktu kurang lebih 1,5 jam dari Manggar.
Di Tanjung Tinggi ini ada beberapa pantai yang sebetulnya lokasinya berdekatan hanya saja namanya yang berbeda, tergantung dari nama rumah makan yang ada. Lokasi yang kami datangi saat itu adalah Rindu Pantai, sesuai dengan nama rumah makannya. Di lokasi Rindu Pantai ini merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi, bahkan sebelum dijadikan lokasi syuting, pantai ini sudah ramai dikunjungi. Untuk masuk ke setiap lokasi pantai, biasanya dikenakan biaya per orangnya. Tapi masih biaya tawar-menawar juga sama penjaganya. Waktu itu kami dikenakan biaya Rp 50.000 untuk satu mobil.
Setibanya di sana, kami sempat makan dulu di rumah makan Rindu Pantai yang menyediakan berbagai santapan laut dengan harga yang terjangkau. Waktu itu kami ber-enam memesan 3 ekor ikan yang dibakar kecap, salah satunya Nila bakar, 2 porsi cumi goreng tepung, 2 porsi cah kangkung, 6 porsi nasi, 6 buah kelapa muda, dan kami hanya membayar sebesar Rp 211.000. Selesai makan, kami pun berjalan-jalan di sekitar pantai sambil berfoto-foto ria.
Sungguh sangat indah pemandangan disekitarnya. Air lautnya yang berwarna biru kehijau-hijauan, pasirnya yang putih, dan yang tak kalah menarik bebatuan yang terhampar di sekitar pantai. Menurut orang setempat, bebatuan yang ada termasuk jenis bebatuan yang hidup. Artinya bebatuan itu terus bertambah besar setiap tahunnya. Nah, bayangkan saja, bebatuan yang sudah sebesar itu masih tumbuh lebih besar lagi. Tidak heran kalau Tanjung Tinggi ini seketika menjadi tempat favorit saya.
Di Tanjung Tinggi ini juga ada vila sehingga pengunjung bisa menginap. Sayangnya karena sedang musim liburan, penginapannya pada penuh. Kalau pun masih ada, pasti harganya cukup mahal, bisa mencapai Rp 800.000 sehari (“mahal jok”, kata teman saya dengan logat Belitungnya). Menurut teman saya, jika memang ingin jalan-jalan di sekitar Tanjung ini, bisa saja menginap di Kota Tanjung yang terletak tak jauh dari lokasi pantai dan harganya juga lebih murah.
- Bukit Berahu, Tanjung
Dari Pantai Tanjung Tinggi, kami bermobil menuju Bukit Berahu yang masih berara di Tanjung. Perjalanan menuju Bukit Berahu memerlukan waktu kurang lebih 30 menit dari Pantai Tanjung Tinggi.
Nah, di Bukit Berahu ini pengunjung bisa menikmati suasana pantai dari atas bukit sambil menikmati sajian yang disediakan di restoran. Dari atas bukit ini, pengunjung bisa turun ke pantai melalui tangga. Cukup melelahkan juga turun naik tangganya, meskipun tangganya tidak sebanyak yang ada di Candi Borobudur (hehehe). But it was worth trying, karena pengunjung bisa melepas lelah sambil duduk dan menikmati segelas jus dan pemandangan yang indah.
Di tepi pantai juga ada vila sehingga pengunjung bisa menginap. Harganya sekitar Rp 400.000 per harinya.
- Pantai Burung Mandi
Dari Kota Manggar menuju pantai Burung Mandi ini memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Biasanya orang-orang Kota Manggar lebih sering bersepeda motor menuju pantai Burung Mandi. Untuk masuk ke lokasi pantai biasanya dikenakan tarif Rp 10.000 per orang. Tapi jika sedang ada pertunjukkan musik dari artis-artis lokal maka biaya masuknya bisa Rp 20.000 per orang.
Pemandangan di Pantai Burung Mandi ini lumayan bagus meskipun airnya tidak sejernih dan pasirnya tidak seputih Pantai Tanjung Tinggi dan pantai di Bukit Berahu. Dan karena di sekitar pantai ada rumah-rumah penduduk, maka di sekitaran pantai agak kotor dan ada sampahnya juga. Tapi tempatnya lumayan lah untuk bersantai sambil menikmati sate ayam dan angin sepoi-sepoi.
- Pantai Lalang, Manggar
Pantai Lalang ini terletak di Manggar dan bisa ditempuh dengan sepeda motor selama kurang lebih 15 menit dari kota.
Nah, di pantai ini kami berfoto ria baru kemudian menyantap ikan bakar dan nasi sambil minum air kelapa muda. Harganya juga cukup murah. Waktu itu kami bersepuluh memesan 2 ekor ikan bakar, 2 porsi cah kangkung, 2 bakul nasi, dan 10 kelapa muda, hanya membayar tidak sampai Rp 100.000. Maknyusss bukan… (hehehe)
Pantai ini tidak hanya didatangi oleh orang Manggar saja, tetapi banyak juga orang Tanjung yang datang berkunjung.
- Tempat Hiburan di Kota Manggar
- Vega Cafe
Di Kota Manggar ini tidak banyak tempat-tempat hiburan. Salah satu yang paling favorit dijadikan tempat nongkrong ya cuma warung kopi saja. Sampai-sampai teman saya menamai warung kopi dengan sebutan “Starbak Belitung” (hehehe). Selain warung kopi, ada beberapa tempat yang bisa dijadikan tempat nongkrong sambil bersantai ria.
Nah, ada sebuah kafe di Manggar, atau lebih tepatnya disebut restoran, yang namanya Vega Cafe. Di Vega Cafe ini menyediakan berbagai macam makanan laut dan makanan khas Belitung, seperti mpek-mpek (mau yang lenjer apa kapal selam?
). Vega Cafe ini terletak tepat di tepi danau sehingga pengunjung bisa menikmati santapannya sambil menikmati pemandangan danau dan angin sepoi-sepoi.
- Bukit Samak, Nusa indah, Puri indah
Salah satu tempat favorit di Manggar adalah Bukit Samak. Selain tempatnya teduh dan dikeliling oleh pepohonan, pemandangan dari atas Bukit Samak ini juga sungguh menakjubkan.
Di Bukit Samak ini terdapat kafe yang dinamakan Bukit Samak Cafe. Pengunjung bisa menikmati sajian mulai dari mpek-mpek sampai tekwan dengan disuguhi pemandangan indah
Biasanya setiap sore saya dan teman-teman senang mengitari area ini dengan sepeda motor.
Selain Bukit Samak, ada juga restoran Nusa Indah yang selain menyajikan makanan, juga menyediakan fasilitas karaoke. Hanya saja, berbeda dengan Inul Vizta, tidak ada ruangan-ruangan sendiri untuk karaoke melainkan di tempat terbuka, di mana semua orang yang ada di sana bisa melihat kita menyanyi. PD juga ya mereka
Ada juga penginapan Nusa Indah yang terletak di depan restoran Nusa Indah. Jadi bagi Anda yang ingin berkunjung, boleh menginap di sana. Sedangkan untuk Puri Indah sendiri menyediakan fasilitas kolam renang umum dan fasilitas clubbing.
Total kocek yang saya keluarkan untuk liburan selama 2 minggu ini kurang lebih sebesar Rp 1.500.000, sudah termasuk tiket pesawat PP. Dan berhubung saya menginap di rumah teman jadinya free accommodation, deh
Untuk melihat foto-foto lainya, silahkan klik di sini. Dan untuk melihat kenarsisan saya selama liburan, silahkan klik di sini.











Rio likes this.
Wah, pantainya bagus ya