Kisah yang memilukan. Itulah yang saya rasakan saat membaca buku ini, saat membaca kisah kehidupan Mariam dan Laila, dua orang perempuan Afghanistan, yang menggambarkan secara keseluruhan mengenai kehidupan para perempuan Afghanistan.
Mariam terlahir sebagai seorang perempuan Afghan, dan sebagai seorang harami (anak haram) pada tahun 1959. Semasa kecilnya Mariam hidup di sebuah desa, Gul Daman, bersama ibunya di sebuah kolba dan hidup dalam kemiskinan. Kelahirannya sebagai seorang anak di luar nikah merupakan aib tidak hanya bagi ibunya, Nana, tapi juga bagi ayahnya, Jalil, dan keluarganya. Keluguan, rasa penasaran akan dunia di luar Gul Daman, dan keinginan untuk bisa dicintai dan hidup bersama ayahnya, merupakan awal dari kisah menyedihkan Mariam.
Mariam memutuskan untuk pergi dari Gul Daman menuju Herat untuk menemui ayahnya. Diluar dugaannya, Jalil bahkan tidak ingin bertemu dengannya. Mariam pun kembali ke Gul Daman dan mendapati ibunya yang telah meninggal. Sepeninggalan ibunya, ayah Mariam membawanya ke Herat dan menikahkannya dengan seorang pria yang berusia 40 tahun dan berasal dari Kabul, seorang pengusaha dan pemilik toko sepatu bernama Rasheed. Dan saat itu Mariam hanyalah seorang gadis berusia 15 tahun. Kehidupan pernikahannya dengan Rasheed pun tak lebih baik karena Mariam sendiri tidak bisa memberikan keturunan bagi Rasheed. Meskipun pernikahan mereka masih tetap bertahan hingga bertahun-tahun kemudian, namun bagi Rasheed, Mariam tak lebih dari sebuah beban yang harus ditanggungnya.
Akhirnya keinginan saya untuk berlibur tercapai sudah. Dan Pulau Belitung lah yang menjadi tujuannya. Sedikit mengenai Pulau Belitung sebelum saya menceritakan liburan saya di sana.
Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini dahulu dimiliki Britania Raya (1812), sebelum akhirnya ditukar kepada Belanda.
Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar.Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Sedangkan penduduk Pulau Belitung terutama adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka. (Source: Wikipedia)
“The Witch of Portobello” atau “Sang Penyihir dari Portobello” adalah novel karya terbaru dari Paulo Coelho, dan yang tak diragukan lagi, adalah salah satu yang terbaik dari karya-karya lainnya yang tak kalah menarik.
Salah satu keunikan dari buku ini adalah bagaimana cara Paulo Coelho menuliskan ceritanya. Berbeda dari buku-bukunya yang lain, cara Paulo Coelho menulis kali ini dengan menggunakan beberapa karakter dalam menceritakan Athena (a.k.a Sherine Khalil/The Witch). Karakter-karakter tersebut – seorang jurnalis, ibu Athena, guru pagan Athena, mantan suami, muridnya, dan beberapa karakter lainnya – menceritakan interaksi mereka dengan Athena. Dari situlah karakter utama, Athena, tercipta.
Plot ceritanya sendiri adalah mengenai kehidupan Sherine Khalil, yang lebih suka dipanggil Athena. Athena dilahirkan sebagai seorang gipsi dari seorang wanita yang berhubungan dengan pria gadje (non-gipsi), yang kemudian membuangnya di sebuah panti asuhan di Rumania. Athena kemudian diangkat dan dibesarkan oleh keluarga Khalil dan tinggal di Beirut. Saat kekacauan terjadi di Beirut, Athena dan keluarga angkatnya pindah ke London. Di sanalah dia bertemu dengan seorang pria yang kemudian menjadi suami dan ayah dari anaknya.
Weekend kemarin, tepatnya hari Sabtu tanggal 23 Mei, saya dan 4 orang teman dari universitas berpetualang ke Bandung. Maka dengan hanya bermodalkan GPS dan uang di dompet, kami berlima nekat ke Bandung demi memenuhi hasrat untuk menghilangkan penat dan stres (hehehe).
Hari Sabtu, kami semua berkumpul di kampus tercinta. Kangen juga setelah lama tak berkunjung (maaf sedang lebay). Dari sana kami berangkat menuju Bandung sekitaran jam 9:30 pagi, melewati tol Cipularang. Dan begitulah, karena hanya bermodalkan nekat dan GPS, makanya “nyasar-nyasar” melulu (padahal udah pake GPS, loh hahaha). Sebenarnya sih gak nyasar-nyasar amat, cuma sering salah ambil jalur, jadinya harus muter-muter lagi
Setelah beberapa tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2006, Ron Howard menytradai film yang diangkat dari novelnya Dan Brown, yaitu Da Vinci Code, Ron kembali menyutradai film yang juga berkisah tentang petualangan Robert Langdon, yang juga diangkat dari karya Dan Brown, yaitu Angels and Demons.
Kalau dalam petualangan yang sebelumnya Robert Langdon berusaha mencari tahu siapa dibalik pembunuhan seorang kurator ternama yang kemudian membawayanya pada misteri di mana tubuh Maria Magdalena dimakamkan. Namun kali ini kisah petualangan Robert membawanya pada pemecahan misteri mengenai Illuminati (“musuh bebuyutan” Gereja jaman dulu).
Film Angels and Demons ini dimulai dengan kematian Sri Paus (pemimpin umat Katolik di seluruh dunia). Beberapa hari setelah kematian Sri Paus, pihak Gereja menerima sebuah fax yang berisikan simbol dari sebuah perkumpulan yang menamai dirinya Illuminati. Tidak hanya itu saja, ada 4 orang kardinal yang menjadi calon kuat pengganti Sri Paus pun diculik dan kelompok Illuminati ini memberikan ancaman akan membunuh keempat kardinal tersebut di tempat-tempat tertentu sebagai pembalasan dendam mereka untuk Gereja. Dan yang paling parahnya lagi, pihak Illuminati mencuri sebuah hasil penelitian, sebuah bom berkekuatan dahsyat, dan mengancam akan meledakkan seluruh Vatikan.

